Senin, 30 Mei 2011

Si Penyapu Jalan

KISAH HIDUP Si PENYAPU JALAN
Jalan-jalan sepanjang kota itu menempati ruang istimewa dalam hati Sumarno, begitu juga sebaliknya.. Berpuluh tahun dia jadi saksi perubahan zaman yang terjadi di kotanya. Andai saja tiap ruas jalan itu punya jemari, tentu nama Sumarno akan mereka catat dengan tinta emas lalu di bingkai dalam sejarah. Tapi apalah artinya jelata seperti Sumarno, yang kaumnya cuma bisa pasrah dan tabah ketika dijadikan tumbal oleh para penguasa.
Sebagai tukang sapu jalan, dia cukup tahu diri untuk membusungkan dada atau mengabarkan pada setiap orang bahwa ia adalah pahlawan. Lelaki tua berbadan kecil, bungkuk, ringkih dan mulai sakit-sakitan itu hanya percaya bahwa sebagian besar kenangan tentang pergulatan hidupnya telah disumbangsihkan untuk jalan-jalan yang hingga saat ini tak seluruhnya mampu ia ingat namanya.
Pagi buta. Sumarno sudah siap menjalankan rutinitas sehari-hari. Dengan senjatanya: sapu lidi, karung goni kumal, dan seragam yang sudah tidak layak membungkus tubuh; Sumarno bak serdadu yang siap bertempur ke medan perang. Dia pergi diam-diam tanpa pamit pada istri atau anak-anaknya. Tak tega ia membangunkan mereka. Biarlah anak beranak itu tersenyum dalam mimpi indahnya masing-masing, sebab cuma tinggal mimpilah yang bisa mereka miliki secara gratis.
Berjalan menyusuri kota yang masih pulas, Sumarno ingat kemarin ada demo lagi. Ribuan orang tumpah ruah di jalan. Entah apalagi yang mereka tuntut. Bagi Sumarno, usai pesta rakyat itu berarti tumpukan sampah berserak di mana-mana, dan dia bertanggung jawab membersihkannya. Sumarno pernah ngedumel. Apa mereka tidak sadar kalau ulah mereka membuat bebannya tambah berat? Tapi siapa yang peduli pada Sumarno. Apalah artinya keringat tukang sapu jalan, dibanding niat tulus para demonstran yang, konon, demi masa depan bangsa. Toh, sampah-sampah itu tetap harus dilenyapkan. Atasannya pernah memuji peran Sumarno dan rekan-rekan seperjuangannya. Karena jasa merekalah kota itu bisa mempertahankan Adipura untuk kelima kalinya.
Meski cuma tamatan SD, Sumarno tahu lingkungan kotor membuat hidup tak nyaman. Apa jadinya kota yang hiasi sampah? Para pejabat pasti malu bukan kepalang kalau turis-turis bule yang mampir menganggap sampah sebagai ciri khas kota itu. Sumarno pun maklum kalau sampah jadi barang haram di kota itu. Tapi Sumarno manusia, bukan robot atau binatang. Dalam tubuhnya ada jiwa dan hati nurani. Maka, dalam hati sering dia memaki, ‘'Apa pejabat-pejabat itu juga ngerti kalau aku ini orang miskin? Yang aku butuhkan itu uang! Bukan pujian! Bukan penghargaan! Aku perlu uang, untuk mengganjal perut anak istriku! Heh, apakah mereka itu manusia juga?''
Sumarno duduk terpekur di trotoar jalan. Dia ingin istirahat barang sejenak. Sudah ratusan meter dia menyapu jalan. Keringat menyembul satu-satu dari pori-pori kulitnya. Gelas plastik, koran, bungkus nasi, poster-poster, bungkus rokok, dan spanduk-spanduk, masih bertaburan di depan matanya. Di mana para demonstran itu sekarang? Mereka pasti masih ngorok ditemani mimpi-mimpi muluk tentang negeri mereka. Omong kosong mereka semua itu! Batin Sumarno memaki di antara dengus nafasnya. Semenjak sang raja di depak jatuh, kiai jadi presiden, sampai kaum hawa jadi penguasa, toh nasib tukang sapu tidak bergeser sesenti pun. Aku tetap orang kere, pikirnya.
Entah dari mana datangnya, kesadaran Sumarno membentur sekelumit kenangan masa kecil di kampungnya dulu. Almarhum Emak selalu mengingatkan Sumarno untuk selalu bangun pagi. ‘'Biar rezekimu tidak di patuk ayam,'' begitu kata almarhum emaknya.
Membandingkan nasehat itu dengan kondisinya saat ini, Sumarno tersenyum getir. Dari dulu sampai sekarang, dia memang tidak pernah telat bangun pagi. Dia malah sering bangun lebih cepat dari kokok ayam. Tapi, kalau soal rezeki, kenapa dia selalu kalah cepat dengan binatang bertaji itu?
Sejak dulu hingga zaman —yang kata orang-orang— reformasi ini, Sumarno tetap seorang kacung yang gajinya mentok untuk makan seminggu. Untuk makan selanjutnya harus diperjuangkan sendiri. Jadi makelar, pesuruh, atau apa saja asal menghasilkan uang halal. Untung istri dan empat anaknya bukan tipe manusia yang banyak menuntut. Giyarsih, istrinya, jadi tukang cuci di perumahan dekat gubuk mereka. Upahnya lumayan. Keempat anak yang masih kecil-kecil itu pun sudah ditempanya jadi manusia yang gagah menghadapi kemelaratan. Si Mardi, putra sulungnya, jadi penjual koran setelah putus sekolah. Sementara Barkah, anak kedua, tak pernah mengeluh meski jadi penyemir sepatu. Mungkin dua anaknya yang lain, Sumiati dan Lestari, bakal menyusul jejak kedua kakak mereka lulus SD nanti. Bisa baca tulis saja sudah cukup, biar kelak tidak gampang di kelabui orang pintar.
Begitulah, anak beranak itu jadi tulang punggung bersama keluarganya. Setiap malam, uang hasil memeras keringat itu disatukan dan esok paginya dibelikan beras serta lauk pauk ala kadarnya. Tak pernah ada menu daging di meja makan itu. Kalau lebaran tiba atau tetangga sedang ada kenduri, barulah mereka bisa merasakan makan enak. Di sela-sela kesedihan, mereka masih bisa tersenyum jika melihat salah seorang di antara mereka meneteskan air liur dari ujung bibir, lalu menghisapnya lagi dalam-dalam, saking menikmati sepotong daging yang demikian lezatnya.
Dari hari ke hari, kehidupan di kota itu semakin bertambah kejam. Kekerasan yang terjadi di tiap sudut kota dan menyebar hingga pelosok negeri adalah hantu yang tak lagi ditakuti. Pembunuhan, perampokan, perang saudara, pertikaian antar elite, dentuman bom, dan rentetan peluru, sudah dianggap klise. Semua orang seperti sepakat bahwa kekerasan tak ada bedanya seperti menonton telenovela, kuis, atau sinetron yang mengumbar kemewahan.
Aroma kekerasan yang mengepung negeri itu pun menyergap keluarga Sumarno. Lewat televisi hitam putih, satu-satunya aset berharga milik mereka, anak beranak itu terbiasa di suguhi berita kekerasan yang up to date. Anak Sumarno akan berdecak kagum ketika melihat berita demo-demo yang berujung adu jotos. Kekaguman mereka bakal bertambah tensinya begitu melihat darah berceceran di mana-mana. Sumarno dan istrinya tak ketinggalan. Ketika menyaksikan mimik pengungsi yang kebingungan sambil menangis, atau sosok politikus yang sedang berkicau merdu dan nyaring, mereka selalu tertawa terbahak-bahak. Di mata mereka adegan itu sungguh menggelikan.
Embun menari-nari di tiup angin. Di bawah siraman cahaya lampu merkuri, sesekali Sumarno menikmati pemandangan itu sambil menyapu jalanan. Sejenak dia lupakan keluh istrinya semalam karena belum dapat uang cucian. Belum lagi si Mardi yang demam dan kini tergolek lemah di kamarnya. Persediaan beras memang masih cukup untuk seminggu. Tapi, apakah mereka akan makan nasi tanpa lauk sama sekali?
Tiba-tiba Sumarno merasa aneh dengan tempatnya berpijak. Dia merasa berdiri di atas genangan air. Padahal seingatnya kemarin hujan tak turun. Di dorong rasa penasaran, kepalanya menunduk, mengamati apa yang sedang diinjaknya. Begitu menyadari benda apa yang mengepungnya, Sumarno melompat kaget. Beat-beat jantungnya tak lagi berirama. Ada sesuatu dalam tubuhnya yang merayap ke ubun-ubun dan membuatnya menggigil sesaat.
Darah. Merah. Kental. Di mana-mana.
Sumarno telah menginjak gumpalan darah kental yang mulai mengering. Belum habis keterkejutan Sumarno, seekor anjing buduk hitam melenggang santai di depannya. Di mulut anjing itu tergantung benda bulat yang bergoyang ke sana-kemari. Sebutir kepala manusia!
Refleks, pandangan Sumarno menyebar. Dia tertegun lama, menyaksikan pemandangan yang menikam matanya. Sungguh menakjubkan! Ada puluhan, bahkan mungkin ratusan, kepala-kepala manusia berserak tak karuan. Di dekat tong sampah, di depan toko, di jalan raya, di halaman rumah ibadah, di mana-mana. Dilatari darah merah kental. Menggelinding ke sana ke mari di sapu angin pagi. Kepala-kepala aneka bentuk dan ukuran itu telah berpisah dengan tubuhnya tanpa sempat mengucap kata perpisahan.
Anehnya, kali ini Sumarno tidak terkejut lagi. Barangkali rasa kagetnya sudah habis. Tapi, sungguh, kelakuan anjing hitam tadi telah membuat Sumarno keki. Keterlaluan! Sepagi itu seekor anjing telah mempermalukannya. Binatang itu begitu mudah mendapatkan daging segar untuk sarapan pagi. Batin Sumarno melolong. Oh, anak istriku, maafkan segala kehinaanku.
Kalau ada keluarga yang paling berbahagia di muka bumi malam itu, keluarga Sumarnolah yang merasakannya. Sayup-sayup, terdengar tawa anak-anak Sumarno dibawa angin. Melesat ke langit malam. Perlahan-lahan, bulan tertutup awan. Sayup-sayup terdengar tangis serigala yang menyayat-nyayat. Tumpang tindih dengan kegembiraan keluarga Sumarno.
Akhirnya mereka bisa makan enak. Benar kata orang, datangnya rezeki kadang tak terduga. Malam itu di meja makan telah terhidang menu istimewa: sup daging. Sumarno sudah lupa kapan terakhir kali dia bertemu menu seperti itu. Sekarang tibalah saatnya melunasi dendam pada kemiskinan. Sendok garpu beradu dengan piring. Suaranya berdenting-denting. Giyarsih memang istri yang adil. Setiap orang diberi semangkuk sup sama rata. Tak ada cemburu. Tak ada protes. Keadilan masih tersisa di rumah itu. Tiba-tiba, anak beranak itu tertawa ketika si bungsu Lestari, meneteskan air liur dari ujung bibir lalu menghisapnya lagi dalam-dalam, saking menikmati sepotong daging.
‘'Kenapa? Enak, ya?'' tanya Giyarsih.
‘'Nggak enak. Susah dikunyahnya,'' jawab Lestari lugu, sambil mengembalikan potongan kuping manusia itu ke dalam mangkuknya. Derai tawa lagi-lagi bergema. Suaranya disusul lolong serigala yang sayup-sayup entah dari mana asalnya.
‘'Ini, tukar saja dengan punya Emak''.
Sendok Giyarsih tenggelam ke dalam mangkuknya. Sekejap kemudian keluar lagi. Sebuah benda seukuran bola pingpong mengambang dan bergoyang-goyang di atasnya. Sebutir mata manusia. Lestari mencomot, melesakkannya ke dalam mulut, dan mengunyahnya seperti mengunyah permen bon-bon. Matanya terpejam-pejam. Sungguh nikmat.
Malam itu mereka bisa tidur nyenyak tanpa perut melilit-lilit. Tapi Sumarno belum bisa memicingkan mata. Dia masih menikmati rasa bangganya menjadi kepala keluarga yang bisa membahagiakan anak istri. O, beginilah rasanya jadi lelaki yang bertanggung jawab. Ia tersenyum. Suara serigala melolong-lolong di kejauhan ketika Sumarno menguap. Sumarno merebahkan badan di dipan kayu. Mendadak dia ingat berita yang ditayangkan di televisi. Ada sebuah bom meledak di pusat kota tadi siang. Puluhan orang mati dengan tubuh cerai berai, ratusan lainnya luka-luka, gedung-gedung jadi puing, dan banyak mobil mewah disulap jadi arang.
Sumarno hafal jalan ke lokasi pemboman itu. Dia biasa menyapu jalan di sana. Sumarno berniat, besok pagi-pagi sekali, dia akan berangkat ke sana. Menyisir tempat itu dengan sapu lidinya. Harus lebih hati-hati kali ini, pikirnya. Siapa tahu masih ada kepingan-kepingan tubuh manusia yang tercecer di sekitar tempat itu dan bisa dibawanya pulang. Terbayang di pelupuk matanya, sarapan pagi dengan menu semur daging panas terhidang di meja makan. Aromanya mengepul mengundang selera. Lalu disantapnya menu itu bersama-sama. O, gurihnya daging manusia!
Di ujung kantuknya, Sumarno berdoa dalam hati, semoga kebiadaban di negerinya tak pernah berakhir, agar keluarganya bisa turut merasakan nikmatnya memakan sesama manusia.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar