Jumat, 18 Januari 2013

TUGAS SOFTSKIL BAHASA INDONESIA 2


BAHASA INDONESIA 2 (TUGAS KE-4)

NAMA     :  ELIN ELIANI
KELAS    :  3EB06
NPM        :  22210333

Perhatikan pernyataan berikut:
Kerangka karangan atau outline dapat diistilahkan sebagai rancangan atau rencana kerja penulis untuk menguraikan topik atau masalah.
Fungsi kerangka karangan:
1. Memudahkan pengelolaan susunan karangan sehingga lebih teratur dan sistematis.
2. Memudahkan penulis dalam menguraikan setiap masalah.
3. Membantu menyeleksi materi mana saja yang penting dan tidak penting.
Berdasarkan uraian di atas, Tugas Mahasiswa adalah :
1. Beri contoh outline atau kerangka karangan berdasarkan bidang kajian kalian (akuntansi, keuangan, pajak, dsb).
2. Kembangkan outline tersebut dengan pemikiran yang sistematis, kelogisan, dan relevansi serta terpusat pada tema yang ditentukan.
3. Outline dikembangkan dengan singkat, jelas, dan menggunakan kalimat efektif. Perhatikan letak kalimat utama, setiap paragraf hanya cukup 1 kalimat topik.




KERANGKA KARANGAN
Tema        :  Waralaba
Judul        :  Pentingnya Waralaba bagi Perusahaan di Indonesia

1.  Latar Belakang
1.1   Sejarah Waralaba
1.2   Definisi Waralaba
2.   Jenis-jenis Waralaba
2.1   Waralaba Luar Negeri
2.2   Waralaba Dalam Negeri
3.   Biaya Waralaba
3.1   Ongkos Awal
3.2   Ongkos Royalti
4.   Keuntungan dan Kerugian Waralaba
            4.1   Keuntungan Waralaba
4.2   Kerugian Waralaba


PENTINGNYA WARALABA BAGI PERUSAHAAN DI INDONESIA

1.  Latar Belakang
1.1            Sejarah Waralaba
                 Waralaba diperkenalkan pertama kali pada tahun 1850-an oleh Isaac Singer, pembuat mesin jahit Singer, ketika ingin meningkatkan distribusi penjualan mesin jahitnya. Walaupun usahanya tersebut gagal, namun dialah yang pertama kali memperkenalkan format bisnis waralaba ini di AS. Kemudian, caranya ini diikuti oleh pewaralaba lain yang lebih sukses, John S Pemberton, pendiri Coca Cola. Namun, menurut sumber lain, yang mengikuti Singer kemudian bukanlah Coca Cola, melainkan sebuah industri otomotif AS, General Motors Industry ditahun 1898. Contoh lain di AS ialah sebuah sistem telegraf, yang telah dioperasikan oleh berbagai perusahaan jalan kereta api, tetapi dikendalikan oleh Western Union serta persetujuan eksklusif antar pabrikan mobil dengan penjual.
             Waralaba saat ini lebih didominasi oleh waralaba rumah makan siap saji. Kecenderungan ini dimulai pada tahun 1919 ketika A&W Root Beer membuka restoran cepat sajinya. Pada tahun 1935, Howard Deering Johnson bekerjasama dengan Reginald Sprague untuk memonopoli usaha restoran modern. Gagasan mereka adalah membiarkan rekanan mereka untuk mandiri menggunakan nama yang sama, makanan, persediaan, logo dan bahkan membangun desain sebagai pertukaran dengan suatu pembayaran. Dalam perkembangannya, sistem bisnis ini mengalami berbagai penyempurnaan terutama di tahun l950-an yang kemudian dikenal menjadi waralaba sebagai format bisnis (business format) atau sering pula disebut sebagai waralaba generasi kedua. Perkembangan sistem waralaba yang demikian pesat terutama di negara asalnya, AS, menyebabkan waralaba digemari sebagai suatu sistem bisnis diberbagai bidang usaha, mencapai 35 persen dari keseluruhan usaha ritel yang ada di AS. Sedangkan di Inggris, berkembangnya waralaba dirintis oleh J. Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg, pada tahun 60-an. Bisnis waralaba tidak mengenal diskriminasi. Pemilik waralaba (franchisor) dalam menyeleksi calon mitra usahanya berpedoman pada keuntungan bersama, tidak berdasarkan SARA.
Kategori waralaba berbeda-beda antara lain : franchise dalam bentuk makanan, pendidikan dan lain-lain. salah satu bentuk nya adalah dan masih banyak lagi franchise yang berkembang di Indonesia ini.

1.1    Definisi Waralaba
Waralaba (Inggris: Franchising:Prancis: Franchise) untuk kejujuran atau kebebasan adalah hak-hak untuk menjual suatu produk atau jasa maupun layanan. Sedangkan menurut versi pemerintah Indonesia, yang dimaksud dengan waralaba adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari cirri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan atau penjualan barang dan jasa.
Sedangkan menurut Asosiasi Franchise Indonesia, yang dimaksud dengan waralaba ialah suatu system pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek (franchisor) memeberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, system, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.


2.      Jenis-jenis Waralaba
2.1    Waralaba luar Negeri
Waralaba luar negeri, cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas, merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi.
2.2    Waralaba dalam negeri
           Waralaba dalam negeri, juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik waralaba.

3.      Biaya Waralaba
3.1     Ongkos awal
Ongkos awal, dimulai dari Rp. 10 juta hingga Rp. 1 miliar. Biaya ini meliputi pengeluaran yang dikeluarkan oleh pemilik waralaba untuk membuat tempat usaha sesuai dengan spesifikasi franchisor dan ongkos penggunaan HAKI.

3.2     Ongkos Royalti
Ongkos royalti, dibayarkan pemegang waralaba setiap bulan dari laba operasional. Besarnya ongkos royalti berkisar dari 5-15 persen dari penghasilan kotor. Ongkos royalti yang layak adalah 10 persen. Lebih dari 10 persen biasanya adalah biaya yang dikeluarkan untuk pemasaran yang perlu dipertanggungjawabkan.

4.      Keuntungan dan Kerugian Waralaba
4.1     Keuntungan waralaba
            a.     Pengakuan
Salah satu keuntungan dari waralaba adalah promosinya yang terjangkau secara nasional. Beberapa perusahaan waralaba besar memiliki merek yang dikenal luas oleh masyarakat sehingga memudahkan mitranya yang baru memulai usaha waralaba ini.
            b. Pelatihan
Keuntungan lain dari model waralaba ini adalah transfer informasi yang cepat di seluruh mitra waralaba. Penerima waralaba menerima pelatihan, termasuk metode dan strategi, yang telah dipraktekan dan terbukti sukses oleh pemberi waralaba. Dalam rangka menjaga citra dan konsistensi, pemberi waralaba memberikan perhatian khusus dengan membantu mendidik mitra yang belum berpengalaman.

4.2     Kerugian waralaba
a.       Adanya pembatasan
            Pembatasan merupakan kelemahan dari waralaba. Penerima waralaba diwajibkan hanya menjual produk-produk tertentu dengan harga tertentu pula, juga dekorasi tempat yang diatur oleh pemberi waralaba. Terkadang ada juga pemberi waralaba yang membatasi tempat berjualan mitra sehingga hal ini akan membatasi strategi promosi mitra.

b.      Popularitas
     Kepopuleran merk dapat menjadi keuntungan besar atau kerugian untuk bisnis waralaba. Jika merk sebuah waralaba populer dan dikenal baik oleh masyarakat maka hal ini akan menguntunkan penerima waralaba tapi sebaliknya jika suatu merk kurang populer maka mitra akan mengalami kesulitan untuk menjual produknya

SUMBER  :

Tidak ada komentar :

Posting Komentar